Sewaktu lahir pada 14 April 1961 di Jakarta, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, tetapi kemudian diubah menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Karena keluar instruksi dari pemerintah (14 Desember 1972) yang menekankan agar organisasi ini tidak berciri etnis tertentu, walaupun PITI tetap merupakan wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim.
Kemudian PITI kembali menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ditetapkan dalam rapat pimpinan organisasi pada pertengahan Mei 2000. Dengan demikian, dapat dikatakan PITI saat ini kembali ke Khittah (garis perjuangan) semula, yakni organisasi yang tegas menyebut diri sebagai wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim. Tujuannya adalah mengembangkan dakwah di kalangan orang-orang Tionghoa, baik yang sudah menjadi muslim maupun yang belum. Yang sudah muslim ditingkatkan pengetahuan dan pengamalan Islamnya, sedang yang belum muslim diberi penjelasan tentang Islam.
Namun dalam muktamar tahun 2000 di Jakarta, terjadi perdebatan di antara peserta mengenai kepanjangan PITI, apakah kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ataukah Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Sebagian peserta menghendaki kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, karena itulah nama organisasi ini sewaktu didirikan dan ingin kembali berkiprah untuk komunitas Tionghoa muslim khususnya. Sebagian lainnya ingin mempertahankan Persatuan Iman Tauhid Indonesia, karena organisasi ini harus terbuka bagi semua orang Islam, walaupun mengutamakan keturunan Tionghoa Muslim.
Untuk menyelesaikan perdebatan itu, maka disepakati untuk menggunakan kedua kepanjangan itu bagi PITI, sehingga kepanjangannya menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Keputusan itu diambil, karena para peserta sepakat bahwa PITI mengutamakan Tionghoa, tetapi terbuka bagi pribumi muslim.
Sejak semula PITI yang didirikan oleh H. Abdul Karim Oey Tjeng Hien, H. Abdusomad Yap A. Siong, Kho Goan Tjin, dan kawan-kawan, dimaksudkan sebagai organisasi dakwah untuk membantu orang-orang Tionghoa yang ingin masuk Islam, mempelajari Islam, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan sosial.
Menurut penelitian-penelitian yang pernah dilakukan belum ada data yang pasti mengenai jumlah penduduk Tionghoa Muslim di Indonesia, tetapi pimpinan PITI memperkirakan jumlah penduduk Tionghoa ada 10 juta orang, sedang seorang ahli Cina dari Universitas Indonesia, A. Dahana mencatat 7.200.000 orang, dan seorang peneliti masalah Cina dari Universitas Nasional Singapura menduga ada 5.700.000 orang Tionghoa.
Dari jumlah itu orang Tionghoa Muslim menurut pimpinan PITI mencapai 5 (lima) persen, seorang pemerhati tentang Tionghoa muslim HM. Ali Karim memperkirakan Tionghoa Muslim hanya 2 (dua) persen, dan seorang tokoh Tionghoa Muslim yang sangat terkenal yaitu Drs. H. Junus Jahya menduga penduduk Tionghoa Muslim hanya sekitar 1 (satu) persen dari total penduduk Tionghoa di Indonesia.
Angka manapun yang diikuti, baik yang mengatakan 5 (lima) persen, apalagi yang menduga hanya 1 (satu) persen, penduduk Tonghoa Muslim memang masih sangat sedikit, sehingga dakwah di kalangan mereka terasa sangat perlu dan mendesak. Tetapi dakwah di kalangan mereka tidak dimaksudkan untuk mengajak masuk Islam, tetapi terutama adalah meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang Islam.
Misalnya karena banyak penduduk pribumi muslim yang miskin dan kurang terdidik, maka timbul persepsi yang salah dikalangan orang-orang Tionghoa seolah-olah kalau masuk Islam akan membuat mereka miskin dan bodoh. Kesalahpahaman ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang Tionghoa enggan masuk Islam selama ini.
Karena itu, perlu dijelaskan bahwa Islam tidak menghendaki penganutnya miskin dan bodoh. Islam malah mengharuskan pemeluknya untuk mencari harta yang sebanyak-banyaknya asal caranya halal dan mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu pengetahuan setinggi-tingginya di bidang apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat dan menuntut ilmu pengetahuan boleh dimana saja. Ada sebuah hadist yang sangat populer: 'e2'80'9ctuntutlah ilmu walau di negeri Cina.'e2'80'9d
Pengertian itulah yang perlu disampaikan kepada orang-orang Tionghoa. Setelah mereka mengerti hal itu lalu mereka masuk Islam atau tidak itu sepenuhnya terserah mereka. Sebab masuk suatu agama, termasuk Islam, tidak boleh dipaksa, tetapi harus didasarkan atas keimanan dan kesadaran pribadi agar dapat menerima dan mengamalkam Islam dengan ikhlas.
Faktor lain yang menyebabkan PITI bertambah penting peranannya saat ini adalah terjadinya perubahan politik, yakni runtuhnya Orde Baru dan munculnya era reformasi. Perubahan politik ini mendorong terjadinya perubahan sikap orang-orang Tionghoa ke arah yang terbuka kepada orang-orang pribumi, yang kemudian mereka terdorong masuk Islam, karena mayoritas golongan pribumi itu muslim.
Pada masa Orde Baru banyak orang Tionghoa bersikap eksklusif, karena bisnis mereka maju dengan pesat berkat fasilitas dari pemerintah, sehingga mereka merasa untuk berbisnis tidak terlalu mendesak bekerjasama dengan golongan pribumi. Kalau kerjasama dengan pribumi biasanya mereka lakukan dengan oknum-oknum pemerintah dan orang-orang yang dekat penguasa.
Dengan demikian, hidup mereka cenderung eksklusif, sehingga kurang mendapat dorongan masuk Islam, kecuali mereka hatinya mendapat hidayah dari Allah atau menikah dengan pribumi muslim. Namun dengan runtuhnya Orde Baru dan diganti oleh era reformasi yang diharapkan memberi kesempatan yang sama kepada golongan pribumi dan nonpribumi dalam berusaha, maka orang-orang Tionghoa tidak bisa lagi berlindung pada kekuasaan. Akibatnya orang-orang Tionghoa harus lebih banyak berinteraksi dan bekerjasama dengan golongan pribumi. Interaksi dan kerjasama yang semakin luas bisa menjadi salah satu dorongan kuat bagi orang-orang Tionghoa untuk masuk Islam.
Karena itu, bisa diduga bahwa pada era reformasi ini akan banyak orang-orang Tionghoa masuk Islam. Untuk mengantisipasi perkembangan ini, maka PITI harus tegas menyebut diri sebagai organisasi Tionghoa agar mudah dikenali oleh orang-orang Tionghoa yang hendak masuk Islam.


Masjid ngontrak, pernahkah anda dengar? Mungkin Masjid Lautze masjid pertama di Indonesia yang pernah terpaksa mengontrak gedung demi tegaknya syi’ar agama Islam di kalangan etnis Cina. Karena sebagian besar jama’ah masjid adalah mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), di saat bulan ramadhan pengajian mingguan banyak dilakukan di rumah-rumah pejabat. Apa sih uniknya mereka?
Ada anjuran tak tertulis di kalangan etnis Tionghoa, yaitu boleh masuk agama apa saja kecuali Islam. Dienullah ini digambarkan sebagai agama tukang nyandung (orang yang suka berpoligami).
Menurut HM Ali Karim Oei, di Jakarta pihaknya sudah mengislamkan sekitar dua ribu orang sejak 10 tahun lalu. Setiap satu minggu, kata dia, masjidnya mengislamkan dua atau tiga orang. Selain di Jakarta, kata dia, di Masjid Lautze Bandung dan Tanggerang pun banyak mualaf yang datang. Bahkan, di daerah lain minat non-Muslim untuk memeluk agama Islam pun tinggi. ''Oleh karena itu, kami akan membuka masjid di Cirebon, dan Surabaya pun akan dibuat Masjid Lautze,'' katanya.
Sedangkan menurut Anton Medan, untuk berdakwah pada etnis Tionghoa, tantangannya sangat besar dibanding berdakwah di kalangan pribumi. Hal itu, kata dia, berkaitan dengan kesiapan mental. Karenanya, ia menganjurkan agar mualaf dari etnis Tionghoa agar berbaur dengan Muslim pribumi. ''Tapi pada umumnya, kalau akidah dan keyakinan mereka kurang kuat maka akan mengalami kesulitan setelah menjadi mualaf,'' ujarnya.
Ibarat langit dan bumi, etnis Arab dan Tionghoa secara budaya sulit dipertemukan. Namun dalam Islam mereka bisa melebur. Masjid Lautze tidak ada bedanya dengan masjid yang dibangun etnis Arab atau yang lainnya. Kendati secara fisik, bangunannya sangat berbeda. Masjid Lautze menjadi kebanggaan minoritas keturunan Tionghoa yang beragama Islam.
Masjid ini didirikan Haji Karib Oei, dengan bantuan mantan Presiden BJ Habibie yang tujuannya untuk siar Islam dikalangan keturunan Tionghoa. Bila kita memasuki bagian dalam, akan terasa suasana masjid yang sebenarnya. Warna khas Tionghoa dan Islam mengelubur menjadi satu, sehingga perbedaan budaya begitu tajam seolah menyatu dan ada pembauran.
Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Lautze ini semarak dengan kegiatan keagamaan, seperti sholat berjamaah, tadarus, Al Qur'an dan diskusi tentang Islam. Puluhan warga Tionghoa yang memeluk Islam berbaur dengan warga pribumi di masjid ini. 
JAKARTA--Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah. Berbeda dengan masjid satu ini, yakni Masjid Lautze yang berada di jalan Lautze no. 87-89 Jakarta Barat. Masjid ini tidak memiliki tampilan seperti kebanyakan tempat ibadah.